Pages

  • Home
  • CONTACT
facebook linkedin twitter youtube

riskianikiko

    • Home
    • Fashion
    • _Trendy
    • _Latest
    • Lifestyle
    • shop
    • travel
    • food
    agak susah memang kalo mau ngeblog berhubung ini komputer kelas bersama dan harus bergantian*
    kalo sekarang gw lagi gak kebelet ngeblog gw bakal pulang dah~
    ngantri cukup* lama cuman buat nulis di blog unyu ini ^_^

    hari yang cukup membosankan
    berasa gak ada manfaatnya -___-
    sebenernya sih gak lebe-lebe gitu jugaaak
    tadi pagi itu pelajaran matematika 
    jam pertama, baru hari pertama ini juga kita bener2 sekolah setelah dua hari nganggur g ada gunanya
    BETE
    trs tadi ceritanya gw udah selesei nyatet yang dipapan tulis
    trs gw baca novel "JACATRA SECRET" itu nah, tau kan?
    kalo g tau buka aja di mbah google
    eeeeeee.. gw gak sadar kalo beliau* mendekat ke arah gw
    gw ketauan lagi baca novel >.<
    oh, NO
    belom selesei baca
    punya orang lagi
    disita -__________-

    DEAD

    gw g tau harus bersikap gimana abis itu, udah bete -___-
    jadi berasa seharian bete jugak.ahay~

    seharian g ada yang di kerjain sumpah
    cuma nebengin orang ngechat orang*
    trs geje
    ah, berasa ga idup banget dah!

    sebenernya gw pengen : belajar
    tapi gimana ya? emang susah. tapi ya, "masa gw nyuruh orang jadi paralel gw sendiri gak belajar?"
    gimana dunia mau maju? -____-
    lagian teman2 gw yang laen dan suasananya juga gak memungkinkan buat belajar serius
    ribut dan berantakan
    iuh

    gw jadi *kepengen* mikir ulang
    tadi ustadzah rahayu berqoola-qoola lagi pas abis nyita buku gw "sempat ya kalian baca buku ini? padahal menyelesaikan matematika aja belom tentu bisa. waktu kalian tinggal besok, sabtu udah try out terus pulang. abis pulang. tiga minggu udah ujian semesteran lagi"
    HELL. stres ah lama-lama!
    sebenernya gw sadar akan hal itu. tapi kenapa kalo suruh belajar gak sadar-sadar ya?
    butuh motivasi mungkin*
    Continue Reading


    Akhirnya hari ini hujan benar-benar menutup hariku yang indah.
    *
    Namaku Rani.  Hal yang paling aku suka adalah hujan. Mungkin karena namau Rani, Rain, yang berarti hujan.  Dalam hal apapun, aku menganggap hujan dapat menenangkan hatiku. Entah mengapa, setiap hujan turun, ada saja hal-sal tak terduga yang dapat membuatku tersenyum.
    *
    “Rani, aku menemuinya lagi.”kata sahabatku, Wanda.
    “Siapa? Videnmu itu?”
    “Iya. Siapa lagi coba?”Wanda tersenyum.
    “Yah, terserahmulah.”
    “Rani, ngomong-ngomong, kok misalnya aku di rumahmu, sering bertemu Viden yah?”
    “Hanya kebetulan mungkin.”kataku. Tapi mungkin itu bukan kebetulan, aku tahu rumahnya, lebih dekat dengan rumah Wanda. Akhir-akhir ini dia menjadi lebih sering melewati komplek rumahku. Halah, mungkin itu hanya kebetulan semata.
    “Padahalkan kalau dari rumahnya, jelas lebih dekat melewati komplek rumahku Ran.”selidik Wanda. Aku mendelik.
    “Ya seharusnya kamu bilang kayak gitu ke Viden dong, jangan ke aku.”
    “Ish, ogah banget! Entar dia ngira macam-macam lagi. Oya, besok jadi ya Ran.”
    “Tentu.”
    *
                Aku suka hujan. Tapi Wanda? Sepertinya ia berkebalikan denganku. Bukan karena apa-apa, tapi dia mengalami sakit yang mengahrusnya tidak boleh bersentuhan dengan hujan. Tapi aku tak tahu jika suatu saat Wanda membenci hujan karena alasan lain.
    *
                “Rani, kamu dimana?”tanya Wanda.
                “Aku udah di perpustakaan, Wan. Kamu dimana?”
                “Aku masih di rumah, Ran. Hujan nih.” Aku tersenyum. “Kayaknya aku nggak bisa nyusul kamu sekarang deh.”
                “Yasudah, aku nggak maksa kamu kok Wan.” Wanda kembali tersenyum.
                “Hehe... Maaf banget ya Ran.”
                “Ok.”
    Aku menutup telfon dari sahabatku itu dan berjalan ke arah jendela. Ku sibak tirai perpustakaan beritingkat tiga itu. Benar saja, rinai hujan terlihat deras diluar sana tanpa aku sadari sebelumnya. Kesibukanku membaca memfokuskan pikiranku.
    Seharusnya hari ini aku menghabiskan weekend bersama sahabatku, Wanda. Kita berjanji untuk bertemu di perpustakaan ini karena lokasinya yang strategis. Tapi alam berkata lain, ia menurunkan hujan. Yah, tak apalah. Rencana tuhan bisa jadi lebih baik daripada rencana manusia. Aku selalu percaya bahwa ada hal lain yang dapat membuatku tersenyum dikala hujan.
    *
                “Maaf mbak, “seseorang membangunkanku.  Aku tertidur di kursi perpustakaan itu. Entah apa yang aku pikirkan tadi.
                “Iya, makasih ya mas. Maaf juga.”sahutku.
                “Ngapain minta maaf? Seharusnya saya yang minta maaf karena telah mengganggu tidur lelap anda.”
                “Eh, itu bukan tidur lelap yang disengaja. Aku sedang menunggu temanku, dan.. tertidur.”
                “Bisa dimaklumi, suasana perpustakaan yang sepi dan suasana dingin hujan diluar juga mendukung sekali untuk tidur.”
                “Tepat sekali.” Aku membuka handphoneku. Aku otw ya Ran, tggu ak d luar. “Aku duluan ya.”
                “Mau kemana?”
                “Ketemu teman, di depan perpus.”
                “Boleh ku antar?”
                “Boleh.” Aku berjalan bersama orang yang baru kukenal itu tanpa mengetahui namanya.
    *
                Ran, aku di parkiran. Kamu ke sini aja ya, males masuk nih :D
                “Aku duluan ya, ternyata temanku nungguin di parkiran.”
                “Oh iya. Hati-hati ya.” Aku tersenyum. Wajahnya...seperti pernah kulihat?
                “Mbak, siapa ya namanya?”
                “Rani.”
    *
                “Rani... I  miss you so much! Maaf banget ya Ran, aku telat.”
                “Ya ampun, Wan. Gak lebay juga kali. Yuk jalan!”
                “Tahu nggak Ran?”serunya heboh sambil merangkul bahuku.  “Tadi Viden lewat depan rumahku lho! Nggak tahu deh mau pergi kemana.”
                “Please deh, Wan. Kaya apa sih wajah aslinya sampe kamu tergila-gila gitu?”
                “Makanya Ran, kamu wajib fardu ain ngeliat dia!”
                *You say good morning when its midnight* Handphone Rani berbunyi.
                “Halo bu?”
                “Kamu dimana Rani?”
                “Aku di luar bu, ada apa?”
                “Pulang sekarang, ibu mau bicara sesuatu sama kamu.” Telfon mati. Aku terdiam. Tumben?
                “Ibumu ya, Ran?” Aku mengangguk. “Mau pulang?” Aku menggeleng.
    “Kamu pulang aja Ran, aku nggak apa-apa kok.” Aku terdiam. Baru kusadari hujan telah berhenti. Entah kenapa, serasa kebahagiaan tadi lenyap seketika bersama air hujan yang jatuh.
                “Apa mau ku antar?”
                “Nggak perlu, Wan. Kita jalan-jalan aja ya.” Aku tersenyum.
                Rani.... batin Wanda
    *
    Yah, inilah kehidupanku. Aku merasa ketika hujan berhenti keajaiban itupun pergi bersama rintikan air. Orangtuaku sudah tak seakur dulu lagi, ketika nenekku meninggal, meninggalkan sebuah rahasia yang sampai sekarang aku tak tahu apa.
    Mungkin rahasia itu yang membuat pertengkaran orangtuaku makin memanas?
    *
                Acara jalanku bersama Wanda kali ini tak senyaman dulu. Aku selalu terbayang akan keadaan orangtuaku dirumah. “Wan, aku mau pulang duluan boleh?”
                “Oh, boleh banget. Aku nggak ngelarang. Mau ku anterin?”
                “Nggak usah, makasih. Lagian ini mendung, takutnya hujan.  Ntar kamu sakit lagi,”
                “Oh, yasudah. Hati-hati ya Ran.” Aku tesenyum. “Oh, ya. Kalo ada masalah telfon aku ya, aku bakal kesana meskipun hujan.”sahabatku begitu baik. Aku tak sanggup membendung airmata.
                “Jangan nangia Rani. Kamu pasti kuat!”
                “Iya Wanda. You’re the best.”
                Kata-kata Wanda akan selalu aku ingat.
    *
    Benar saja, hujan turun ketika baru saja aku menaiki motorku. Aku semakin teringat orangtuaku di rumah, aku menangis. Aku menangis dalam hujan. Ku pikir, tak akan ada satu orangpun yang akan menyadarinya.
                “Rani.” Aku menoleh. Seorang cowok yang sepertinya pernah kutemui, memanggilku.  Aku mengerutkan kening. “Nggak inget aku? Yang tadi di perpustakaan?” Aku mencoba mengingat, mungkin benar. Tapi aku tak yakin karena wajahnya tertutup mantel dan setengah helm.
                “Minggir yuk, Ran. Di rumah makan itu.”katanya sambil menunjuk rumah makan di sebrang lampu merah itu. Aku mengangguk agak ragu. Ku belokkan motorku menuju rumah makan tadi.
                Ternyata benar, itu cowok tadi yang kutemui di perpustakaan. Dia ingat namaku, aku saja tak tahu siapa dia.
                “Duduk dulu, ya? Mau?”da menawarkanku. Aku duduk di depannya.
                “Kok kamu diem terus?”tanyanya, lagi. Aku tersenyum kecil. Masih terdiam.
                “Aku aja nggak kenal kamu. Boleh cerita kamu siapa?” Cowok itu berdiri mendekati motornya dan mengambil jaket kering dari jok motornya.
                “Aku mau cerita, kamu pake ini dulu.”katanya sambil menyelempangkan jaket nya kebahuku. “Nah, sekarang kamu dulu yang cerita kenapa tadi kamu nangis di jalan?”
                “Kamu sadar?”
                “Tentu.”
                “Ku kira tak ada seorangpun yang akan sadar.”
                “Hei, aku tak se cuek yang kamu kira. Cerita saja, habis putus sama pacarmu?”
                “Putus sama orangtua tepatnya.”
                “Orangtua? Kok bisa putus?”
                “Sudah cukup ceritaku, sekarang bilang siapa namamu dan dari mana kamu berasal.”
                “Aku berasal dari tanah,”
                “Aku serius..”
                “Oke, namaku Viden.” Aku terdiam kembali. Mungkinkah ini Viden yang Wanda maksud?
                “Aku boleh pulang sekarang?”
                “Kok tiba-tiba gitu? Buru-buru banget ya?”
                “Iya, aku lupa kalo ada urusan lain.”
                “Oh, silahkan. Tapi kapan kamu mau bercerita?”
                “Simpan nomor telfonku di handphonemu.”
                “Oke. Bawa saja jaketku sampaai kamu bayar utang ceritamu padaku.”
    *
    “Wanda? Ku kira kamu pulang.”aku kaget mendapati Wanda duduk di depan pekarangan rumahku.
    “Aku benci hujan, Ran.”tiba-tiba pernyataan itu terlontar dari bibir manis Wanda. Hal yang sangat berkebalikan denganku.
                “Kenapa Wanda?”
    “Aku belum bercerita padamu, barusan aku pulang, benar saja katamu akan turun hujan. Ketika aku mau berhenti di suatu rumah makan, aku melihat.. Viden.” Aku terdiam. “Dia sama cewek lain. Entah siapa itu.” Aku merasakan hal yang tak menyenangkan terjadi.
    “Kamu tak mengenalnya? Sebenarnya Viden itu siapa?”
    “Dia bukan siapa-siapaku. Aku hanya mengenalnya dari tempat lesku. Kamu tahu itu kan? Mulai saat itu aku naksir dia, aku pernah bercerita sekali dengannya, dia bilang, dia nggak punya pacar. Aku semakin berambisi untuk mendapatkannya.”
    “Dia tahu kamu suka dia?”
    “Nggak. Jelas nggak. Aku nggak pernah cerita apapun tentang perasaanku ke dia.”
    “Kalau begitu, kamu salah. Bagaimana kalau tiba-tiba ada cewek lain yang tertarik pada Viden?”
    “Kenapa tiba-tiba kau menanyakannya? Kamu bahkan nggak tau siapa Viden.”
    “Oh, oke. Maafkan aku, itu urusanmu. Tapi tak sepantasnya karena itu kamu membenci hujan.”
    “Memangnya kenapa?”
    “Tak apa. Mari masuk.” Aku sudah kalah debat dengannya. Mungkinkah aku cewek yang Wanda maksud?
    *
    Aku memasuki rumahku. Ayahku tak di rumah. Hanya ibuku saja yang sedang memasak di dapur. Tak akan ku hampiri, aku malas. Ku ajak Wanda ke kamarku.
    “Tidur saja Wan, aku mau ke kamar mandi dulu.”
    *
    “Sekarang aku tahu alasanmu kenapa membela Viden.” Aku terkejut dengan pernyataan Wanda.
    “Maksudmu?”
    “Halah nggak usah sok bodoh. Ini jaketnya siapa kalau bukan punya Viden?” Aku terdiam. Tak bisa berkata apa-apa. Wanda menemukan jaketnya Viden dalam tasku.
    “Aku pulang ya Ran, makasih buat semua persahabatan kita.”
    “Wanda, kamu salah paham!”Wanda tak peduli.
    *
    Aku pergi dari rumah. Hanya ingin sekedar mencari udara segar. Suasana sore itu masih mendung, antara hujan tak hujan. Tepat sekali dengan perasaanku yang galau.
    Aku berhenti pada suatu rumah kosong sepi tak berpenghuni. Rumah itu dulu rumah nenekku, tempat aku melarikan diri dari rumah jika ada masalah. Tapi sekarang sudah berbeda. Rumah itu sekarang hanya sebuah rumah kosong tak berpenghuni yang sudah beralih fungsi.
     Aku duduk di kursi depan rumah itu. Tiba-tiba saja hujan turun. Seseorang berhenti depan pekarangan rumah itu. Motornya seperti ku kenal. Orang itu masuk, sepertinya ia tak sadar kalau di depan rumah ini ada orang.
    “Rani?”
    “Viden?”
    “Ngapain kamu di sini?”
    “Ini rumah nenekku, dulu.”
    “Nenekmu? Ini rumah nenekku Rani. Yah, meskipun aku baru tahu akhir-akhir ini kalau rumahnya di sini.”
    “Jangan menaguku-ngaku. Aku tak pernah melihatmu sebelumnya.”
    “Memang, aku baru tahu kalau ini rumah nenekku juga. Bahkan, baru di akhir-akhir kehidupannya aku tahu kalau beliau masih hidup, dunia begitu sempit.”
    “Maksudmu?”
    “Mungkin sekarang waktu yang tepat. Aku kakakmu Rani, kakak kandungmu.”
    “Apa yang kamu bicarakan?”
    “Aku kakakmu. Kebohongan besar yang telah lama berlalu.” Aku terdiam. Hal yang tak pernah ku sangka sama sekali.
    “Coba ingat kata terakhir yang nenek bicarakan kepadamu.” Suatu saat, kamu pasti akan tahu sebuah kebohongan besar yang dilakukan orangtuamu. Baru bulan lalu nenekku meninggal, baru tadi aku bertemu dengannya, semuanya terbongkar. Tanpa sepengatahuanku selama ini, ternyata Viden kakakku. Kakak kandungku.
    Aku mencoba menerima semuanya yang terjadi begitu cepat.
    Aku terpaku di depan rumah itu. Hujan semakin deras. Air mataku menetes.
    “Itu alasanku kenapa akhir-akhir ini kenapa aku sering memperhatikanmu.”
    Sungguh aku tak menyadarinya.
    “Kamu mau pulang ke rumahmu? Ke rumah kita? Aku akan mengantarmu adikku.” Aku pilih mengangguk.
    *
    Hujan tak kunjung berhenti hingga aku tiba di rumahku, yang sekarang menjadi rumah Viden juga, rumah ayah kita. Ibuku menunggu di depan rumah, aku kira ini bagian dari skenario hidupku hari ini.
    “Viden?”
    “Hai, tante.” Viden menyalami ibuku.
    “Rani? Dan kamu?”ibu terlihat kaget.
    “Nggak usah kaget tante. Saya sudah mengatakannya pada Rani.”
    Ibuku memelukku. Aku menangis lagi.
    Ternyata, ibuku juga tidak tahu menahu tentang hal ini. Baru beberapa waktu sebelum nenekku meniggal ibuku mengetahuinya. Mungkin itu sebab pertengkaran orangtuaku akhir-akhir ini. Ternyata ayahku pernah menghamili orang sebelum menikah dengan ibuku. Dan anaknya itu adalah, Viden.
    Aku saja sedih, bagaimana Viden? Baru kusadari betapa jahatnya ayahku. Merahasiakan ini sepanjang 16 tahun hidupku.
    Aku masih dalam dekapan ibuku. Seperti korban tindas kebohongan. Tak lama, Viden ikut memeluk kami, aku dan ibuku.
    “Maaf ya tante, Rani, keluargaku memang keluarga penghancur.” Ibuku melepaskan pelukannya.
    “Tidak ada yang salah, Viden. Semua ini adalah cobaan buat kita semua.” Viden tersenyum, terharu. Ia melirikku, aku balas meliriknya, tersenyum.
    Benar kata ibu, semua ini cobaan. Tak ada yang perlu di salahkan.
    “Jangan benci sama ayah kalian ya, dia sudah memberikan yang terbaik untuk kalian.”
    Aku dan Viden mengangguk, tersenyum.
    *
    Akhirnya hari ini hujan benar-benar menutup hariku yang indah. Hari ini, semuanya mambaik. Aku dan Wanda bersahabat seperti dulu. Aku dan Viden  sudah akur. Orangtuaku juga. Wanda dan Viden? Tebak saja apa yang terjadi jika mereka akhirnya saling mengenal.
    Mungkin kalau hari itu tidak turun hujan, aku tidak akan merasa sebahagia ini.

     SMA Indonesian Contest
    menyambut bulan bahasa :)
    Continue Reading
    Terkadang kita ngerasa kecil di antara orang-orang dewasa. Bukan kecil dalam artian fisik, tapi sebuah pemikiran. Pemikiran yang bisa di bilang belom nyampe, yaa belom nalarlah~ gak kepikiran yang di pikirin ama orang dewasa.
    Wajar~ menurut gw itu bukan tuntutan umur, tapi tergantung anak itu sendiri. Kalo dia mau dan bisa dan terbiasa buat berpikir dewasa, mungkin dia bakalan bisa dewasa sebelum umurnya kali ya

    Gw? Hidup di antara orang-orang dewasa. Jarang banget ama yang namanya maen sama anak seumuran gw gitu. Jadi, kadang gw coba buat mikir kayak mereka, berpikir dewasa gitu~ sebenernya mikir dewasa itu gimana gw juga nggak ngerti. Sok bijak ajalah intine. Asal ngomong dan itu jarang banget terjadi. Pikiran gw masih pendek, belom bisa mikir jauh ke depan ntar jadinya gimana, yaaa bisa di bilang masih childist gitu lah~ 

    Gw maksa. Sok bijak. Padahal kadang gw juga gak ngerti apa yang gw omongin itu. 
    Aneh memang rasanya. Gw ngerasa terombang-ambing kehidupan dunia. Gw pengen belajar, gimana sih rasanya *di tuntut dewasa sebelum waktunya?*

    Sebenernya gak ada yang nuntut secara langsung, tapi secra gak langsung lingkungan yang menuntun gw buat bersikap kaya gitu. Masa di tengah orang-orang besar gw masih mau bertingkah kayak anak-anak? NGGAK BANGET! 

    Gw belom siap meeeeeeeeen……

    Roommate* gw yang bertiga itu kadang juga ngajarin gw, gimana sih jadi orang dewasa itu? Bukan dewasa juga, seenggaknya berpikir lebih buat masadepan dan tingkah laku gw sehari-hari. Mulai dari milih jurusan ampe make bedak segala. Jujur, gw emang bukan ahlinya make bedak tabur di muka, pasti gak pernah rata dengan baik. Trs salah satu penghuni kmar gw berqoola2 “buat apa punya anak kamar mentel kalo pake bedak aja gak bisa?” well, kita emang saling melengkapi. 
    Gw juga gak bisa ngupas mangga sendiri. Please deh~ padahal gw suka bangeeeeeeet ama mangga! Kadang gw motongnya ketebelan ampe daging mangganya ikut kepotong bareng kulit, trs dia* bilang lagi “potong aja gak usah takut kotor”. Alhasil akhirnya gw bisa sendiri. 

    Apalagi ya? Mungkin masalah kesadaran? Mengatur waktu? Dan lain lain lain laaah~
    Gw belom bisa ngontrol semua hal dengan baik. Kayak gini taun depan udah mau maen kuliah aja? 

    Gak siap meeeeeennn~ terus gw harus gimana? >.<


    Berakhir : Bingung
    Continue Reading
     
    pagi-pagi berangkat itu.. suasanya udah seneng banget :D

    kagak tau kenapa, yg pnting keluar aja gitu~

    otw? gw tidur pas uda mau nyampe tempatnya, jadinya *nanggung* gitu
    yah.. di bis hanya bernyanyi, bercanda, bersukaria, dan tidur
    that's all

    pas pertma kali nyampe. gw udah ngerasain hawa-hawa gak enak gitu. ngeliatin flying fox tinggi yang belom-belom uda bkin kaki gw merinding
    "itu tinggkat apa?" "black satu kiko"
    oyaa. pantas dan wajar sajalah! gak gak dan gak bakal gw naik ke sono!
    trs kita ganti baju dengan baju otbon baru unyu* 
    gak lupa dan gak bakal lupa, kita poto-poto dengan unyu*nya
    gw seneng :D keliatan kurus aja gitu ya pake baju otbon ini! gak kaya baju otbon
    gak ada tulisan otbon, kalo di lipet uda kayak pake baju elpe, gak ada belahannya, pendek..
    dan yang jelas unyu* banget :D

    oya.. kita mulai perjalanan otbon kita kali ini
    pertamanya jelas memakai alat2 otbon itu, trs pemanasan dan instruksi
    abis itu.. kita di suruh nyobain demo satu-satu
    oohh... kecil banget :p *blagu*
    ya jelas! tingginya cuma seberapa sih?
    trs anak2 yg laen paada ngelanjut ke ungu, jadinya rame
    trs bomi-zahra-ciponk-iprid-gw-sukri-ajeng-dylla-nonog langsung naek ke 'blue 1'

    sungguh sangat belagu. kalo di liat dari bawah mungkin emang gak tinggi2 amat gitu

    trs pas gw naek pertama, mash biasa aja
    pas uda nyampe di atas gitu, mau flying fox-an ngantri dulu. soalnya iprod baru nyampe
    itu bunderan di sekitar pohon yg gw pake buat bediri, kecil banget >.<
    dari situ gw baru ngerasain kaki gw gemeteran. ah sudahlah, berjuang !
    akhirnya flying fox pertama gw lewati dengan indah
    pas nyampe di pohon selanjutnya, itu ngantri lagi
    kaki gw makin gemeteran, menjulur ke tangan ampe gigi gw juga
    emang yak. dasarnya takut tinggi itu udah ga bisa ngapa2in ! gw nyesel~
    trs gitu di suruh ngelanjut ke batang2 gitu, TINGGI KECIL . oh gosssshhh!! mampus
    gw udah ketakutan setengah mati

    mana di bawah ada mas2nya gitu yang gangguin, jadi jaraknya lebar banget!
    gw takut.. gile~ gw udah triak2 tetep aja masnya gangguin
    serem abis sumpah! rasanya gw pengen loncat ! oh no!!!
    gak ada pilihan, akhirnya gw triak "MASNYA... PENGEN TURUN. GAK BERANI LEWAT"
    trs sukri dateng, tu pohon makin sempit jadinya, trs masnya gangguin makin parah
    ampe tu pohon ikutan goyang. "HWAAAA..." gw meluk phon sambil triak2 pengen turun gitu
    tapi tetep aja, ampe gw NANGIS! masnya baru berhenti gitu ya
    trs gw nangis sambil triak2, kepengen turun
    trs masnya naek bantuin gw nyebrang :D "oh, no! gw malu banget!"
    trs abis itu gw masih ngerengek2 minta turun, akhirnya di bantuin turun juga :D
    "jongkok" "nggak mau mas" "loh? kalo gak jongkong dulu gimana mau turun? kamu mau lompat?" "nggak mau" "yaudah. jongkong trs lompat biasa" "ntar jatoh " nggak bakal, udah ada yang megangin di bawah" oke. buat turun juga gw gak berani, udah merinding sndiri gara2 tinggi... padahal cuma segitu doang! gw gak berani sumpah!

    pas nyampe bawah, gw duduk di atas kuris sendirian, merana
    gw masih sesenggugak dikit gitu. ngiri juga ama anak2 yg laen 
    pengen maen lagi, tapi ntar gw nyusahin
    yaudah, gw nenangin diri aja

    trs pas pada udah selesei nyebrngin blue 1, ustadzah rahayu nyamperin gw.
    gw nangis lagi coba >.< pengennya sih enggak. tapi gimana? airmatanya keluar sendiri

    gw masih merinding gitu
    trs, gak lama, beliau pergi 
    entah kenapa, kalo lagi ketakutan gitu, kadang kalo di deketin orng gw jadi ngerasa takut lagi
    ish~ aneh
    trs mas yg tadi nolongin gw bilang "itu naek kuning apa hijau gitu" "emoh ah" gw lagi gak pengen berhubungan dengan yang begitu2an. "yah,, udah gede kok cengeng?!"

    OH NO! Gimana gak malu?! GW DI KATAIN CENGENG #emang sih
    tapi tapi tapi........ oh no >.<
    mendingan gw pergi dari situ
    untungnya udah banyak juga anak2 yg pada slesei
    trs kita foto2 doang ampe slesei sambil naek yang kuning juga gitu *GEJE ABIS*

     

    trs gak lama, jam 12-an gitu kita pulang gara2 anak anak TKS putra dateng
    ah, dsar kunyuk. kan harus.e kita sampe jam empat malah bagi dua waktu sama anak2 kutil itu. iuh~

    trs kita balik, makan, ke tempat oleh2 yg *MAHAL* byuuuut, trs pulang~
    gak asyik banget.
    masa berangkat jam 07.30 pulang jam 16.00 ?
    otbon apa kayak gitu? gak menikmati banget

    ngiri juga denger ceritanya anak2 yg *kayaknya* seru banget ampe level mana2
    OUH!!
    tapi kalo gw ikut, mungkin gw masih gemeteran ampe sekarang, gak kebayang!









    foto lebih lanjut ---> annisah farhiah
    putri prihatin
    ulfa nurul
    Continue Reading
    unyu~
    lagi-lagi @kantop. numpang oel lah ceritanya
    gak cuman buat numpang oel, pusing ngeliatin layar laptop corel draw*

    kepengen curhat tentang masa depan*
    di depan mata
    di depan sebuah kehidupan singkat
    gw belom punya ide/pikiran/gagasan/tujuan *pokok* pengen kuliah dimana. boro-boro ah dimana, mau jurusan apa aja masih berputar di kepala #,#

    ujian sudah di depan mata. masih bingung mau ngambil jurusan apa
    tidur aja sepanjang hari, gak usah kuliah
    ato pilihan terakhirnya tmen2 gw ---> KAWIN
    itu bukan pilihan terakhir gw kalo gak dapet kampus ntr
    gw masih pengen menikmati masa-masa lajang menjadi remaja unyu*, gw masih muda! gw masih bisa les bermacam-macam hal, maasih banyak yang bsa gw lakuin sebelum KAWIN #,#

     - terlihat jelas dari cuplikan berikut-
    masa pas ada salah satu santriwan yang meninggal* (Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raji'un) pada pulang semua tuh. gw jga gak ngerti itu sbenernya pelajaran apa nggak. yang jelas emng gak ada kelas yang lagi belajar. gw juga gak pengen ngedekem mulu di kelas~ akhirnya gw, felo. mba noe ama mba bontok berpetualang (#alay). bukan deng, cuma muter2 nyariin foto2 anak2 yang bakalan masuk smart ntar. 
    pas jam 7-8 bunyi, ternyata ustadzah gw, ustadzah arofah dateng. beliau ngajar fiqih di kelas gw~ dan...... sekarang lagi ngebahas bab NIKAH :D
    gimana gak pada semangat cobaaa? yg laen uda pada pulang ttep aja kita maksa buat belajar. gak maksa, cumaaa mau gimana lagi? tapi gw liat juga anak2 pada seneng-seneng aja yak?
    tiba-tiba aja iqomah, gimana kita nggak *o*
    ternyata KI memang sudah sepi. subhanallah banget semangat belajar anak2 :D
    sudah cukup
    kembali ke topik awal
    intinya, gw belom kepengen, belom siap, belom mau, kuliah
    takut*
    kaloo ada yg bsa ngasi saran kiyut* ke gw, please yah! :*
    you're the best!

    Continue Reading
    @kantop (kantor ope)


    lagi-lagi-lagi
    bersama parner sejati gw. *ainur rosyidatul husna* sang BU PIM redaksi majalah gw
    lagi-lagi-lagi
    gw numpang o.el di sini, abis butek ngeliatin layar lepy yang gak berubah-ubah, bingung sudah tak punya ide buat ngelayout*. berhubung gw juga kangen ama si bloggy* ini. muahmuahmuah :*


    gw ngelayout lhooo
    sebenernya gw bukan bagian layout, tapi editor. nggak pantes emang, tapi ya... namanya juga takdir. kalo di suruh milih antara "editor-layout" jelas gw milih layout. gw lebih hobi ke sono, ngeliatin corel draw meskipun gak sepenuhnya gw ngerti make tu program. dari pada gw berkutat di depan kertas berlembar2 yang harus di edit jadi satu artikel *pendek*. oh, plis~ nilai basindo gw gakk baaikk.. pantes yak jadi seorang editor? gw rasa : nggak.
    tapi sekali lagi, takdir yng bawa gw ke sini


    hari ini, udah gak tau hari ke berapa. yang pasti jadwal *DEADLINE* (baca : garis mati) udah makin mepet aja. dan anak2 bagian layout.. gak pada mulai kerja.
    si AFI* yang uda gw ingetin tiap hari masih aja watados2nya, pengen gw makan*
    si AIDAH* yang selalu gak punya waktu, apa mungkin gw ngajak di saat yang gak tepat. pernah dia dateng sekali dan.......... NONTON. itulah yang dia lakukan~ always dari dulu
    si DEA, gw gak tau apa kendalanya dia. mungkin karena dia masih kelas empat, gak mungkin dia masuk "kantop" ini. tapi pas malem2 gw ajakin, dia juga gak dateng~


    gimana toh? daripada gak jalan-jalan...
    kita tukeran profesi. bukan tukeran, alias ngerangkap*
    mba ais --> jadi editor dadakan
    mba ainur --> jadi editor + sekretaris dadakan
    gw --> jadi layout dadakan
    dan terkadang.. ada FLO yang setia nungguin gw



    jujur.. gw seneng ngerjain beginian. jadi lupa sejenak ama sekolah, 
    ngelayout sambil o.el, sambil dengerin musik, sambil ngeblog! uyyee~
    yang posisinya udah pasti bukan di kelas yang *lumayan* membosankan
    abis letak kelasnya yang sungguh sangat monotone.


    oke. balik ke kantop
    punggung gw jadi agak remuk*, mata gw jadi kreyep2 ngeliatin si lepy, tangan gw jadi kju sndiri megangin si tikus (baca : mouse)
    gw pengen masukin foto buat entri ini. tapi.. gw gak tega men -_-
    kalo udah spaneng ngadep komputer gini gw udah gak kepengen liat muka gw sendiri yang *sungguh sangat nggak banget*. apalagi mukanya orang lain yang *sama aja kaya gw*! SPANENG
    tapi gw rasa mendingan spaneng daripada ketwa2 gak jelas kaya... GW sendiri
    -_- (ah, gimana sih lo?)
    kadang kalo liat hal2 lucu* gw sering senyum2 sndiri depan lepy
    hanya lepy, gw, Allah, dan orang2 yang ngeliat gw yang tau
    sebabnya? hanya lepy, gw, Allah, dan orang2 yang ngeliat gw yang tau



    yah, begitulah.. maaf, keadaan semakin tidak jelas.
    semakin malam semakin menjadi*
    sekian terima kasih :)


    with love <3 kiko
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About me

    Nurul Fajar Riskiani

    Architecture Designer

    Love to crafting. Love to Designing. Love to Traveling. Beauty Enthusiast. Acne Fighter.

    Follow Me

    • facebook
    • twitter
    • youtube
    • instagram

    Popular Posts

    • REVIEW BRUSH MURAH MERIAH: BAMBOO MAKEUP BRUSH [INDONESIA]
    • Pacitan Journey Trip
    • tong lee hei - TOUCH MY HEART lyric
    • justin bieber - KISS AND TELL lyric

    Friends

    Labels

    *fikSTORY *storyofmylife Action beautyreview brushreview Collegestory collegestory^^ PhotoProject ProjectKiko Riskianikiko SeHiSc Song Lyrics vacation

    Blog Archive

    • Jun 2017 (1)
    • Feb 2015 (1)
    • Jan 2015 (1)
    • Sep 2014 (1)
    • Jan 2014 (4)
    • Des 2013 (1)
    • Jul 2013 (2)
    • Mar 2013 (1)
    • Jan 2013 (2)
    • Des 2012 (1)
    • Nov 2012 (1)
    • Sep 2012 (1)
    • Agu 2012 (4)
    • Jul 2012 (7)
    • Jun 2012 (3)
    • Feb 2012 (1)
    • Jan 2012 (1)
    • Des 2011 (10)
    • Nov 2011 (8)
    • Okt 2011 (8)
    • Sep 2011 (3)
    • Agu 2011 (14)
    • Jul 2011 (7)
    • Jun 2011 (31)
    • Mei 2011 (4)
    • Apr 2011 (14)
    • Mar 2011 (29)
    • Feb 2011 (3)
    • Jan 2011 (17)
    • Des 2010 (4)
    facebook Twitter instagram pinterest bloglovin Linked In tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top