Rinai Hujan
11.16
*
Namaku Rani. Hal yang paling aku suka adalah hujan.
Mungkin karena namau Rani, Rain, yang berarti hujan. Dalam hal apapun, aku menganggap hujan dapat
menenangkan hatiku. Entah mengapa, setiap hujan turun, ada saja hal-sal tak
terduga yang dapat membuatku tersenyum.
*
“Rani, aku menemuinya
lagi.”kata sahabatku, Wanda.
“Siapa? Videnmu itu?”
“Iya. Siapa lagi
coba?”Wanda tersenyum.
“Yah, terserahmulah.”
“Rani, ngomong-ngomong,
kok misalnya aku di rumahmu, sering bertemu Viden yah?”
“Hanya kebetulan
mungkin.”kataku. Tapi mungkin itu bukan kebetulan, aku tahu rumahnya, lebih
dekat dengan rumah Wanda. Akhir-akhir ini dia menjadi lebih sering melewati
komplek rumahku. Halah, mungkin itu hanya kebetulan semata.
“Padahalkan kalau dari
rumahnya, jelas lebih dekat melewati komplek rumahku Ran.”selidik Wanda. Aku
mendelik.
“Ya seharusnya kamu
bilang kayak gitu ke Viden dong, jangan ke aku.”
“Ish, ogah banget!
Entar dia ngira macam-macam lagi. Oya, besok jadi ya Ran.”
“Tentu.”
*
Aku
suka hujan. Tapi Wanda? Sepertinya ia berkebalikan denganku. Bukan karena
apa-apa, tapi dia mengalami sakit yang mengahrusnya tidak boleh bersentuhan
dengan hujan. Tapi aku tak tahu jika suatu saat Wanda membenci hujan karena
alasan lain.
*
“Rani,
kamu dimana?”tanya Wanda.
“Aku
udah di perpustakaan, Wan. Kamu dimana?”
“Aku
masih di rumah, Ran. Hujan nih.” Aku tersenyum. “Kayaknya aku nggak bisa nyusul
kamu sekarang deh.”
“Yasudah,
aku nggak maksa kamu kok Wan.” Wanda kembali tersenyum.
“Hehe...
Maaf banget ya Ran.”
“Ok.”
Aku menutup telfon dari
sahabatku itu dan berjalan ke arah jendela. Ku sibak tirai perpustakaan beritingkat
tiga itu. Benar saja, rinai hujan terlihat deras diluar sana tanpa aku sadari
sebelumnya. Kesibukanku membaca memfokuskan pikiranku.
Seharusnya hari ini aku
menghabiskan weekend bersama sahabatku, Wanda. Kita berjanji untuk
bertemu di perpustakaan ini karena lokasinya yang strategis. Tapi alam berkata
lain, ia menurunkan hujan. Yah, tak apalah. Rencana tuhan bisa jadi lebih baik
daripada rencana manusia. Aku selalu percaya bahwa ada hal lain yang dapat
membuatku tersenyum dikala hujan.
*
“Maaf
mbak, “seseorang membangunkanku. Aku
tertidur di kursi perpustakaan itu. Entah apa yang aku pikirkan tadi.
“Iya,
makasih ya mas. Maaf juga.”sahutku.
“Ngapain
minta maaf? Seharusnya saya yang minta maaf karena telah mengganggu tidur lelap
anda.”
“Eh,
itu bukan tidur lelap yang disengaja. Aku sedang menunggu temanku, dan.. tertidur.”
“Bisa
dimaklumi, suasana perpustakaan yang sepi dan suasana dingin hujan diluar juga
mendukung sekali untuk tidur.”
“Tepat
sekali.” Aku membuka handphoneku. Aku otw ya Ran, tggu ak d luar. “Aku
duluan ya.”
“Mau
kemana?”
“Ketemu teman, di depan perpus.”
“Ketemu teman, di depan perpus.”
“Boleh
ku antar?”
“Boleh.”
Aku berjalan bersama orang yang baru kukenal itu tanpa mengetahui namanya.
*
Ran,
aku di parkiran. Kamu ke sini aja ya, males masuk nih :D
“Aku
duluan ya, ternyata temanku nungguin di parkiran.”
“Oh
iya. Hati-hati ya.” Aku tersenyum. Wajahnya...seperti pernah kulihat?
“Mbak,
siapa ya namanya?”
“Rani.”
*
“Rani...
I miss you so much! Maaf banget ya
Ran, aku telat.”
“Ya
ampun, Wan. Gak lebay juga kali. Yuk jalan!”
“Tahu
nggak Ran?”serunya heboh sambil merangkul bahuku. “Tadi Viden lewat depan rumahku lho! Nggak
tahu deh mau pergi kemana.”
“Please
deh, Wan. Kaya apa sih wajah aslinya sampe kamu tergila-gila gitu?”
“Makanya
Ran, kamu wajib fardu ain ngeliat dia!”
*You
say good morning when its midnight* Handphone Rani berbunyi.
“Halo
bu?”
“Kamu
dimana Rani?”
“Aku
di luar bu, ada apa?”
“Pulang
sekarang, ibu mau bicara sesuatu sama kamu.” Telfon mati. Aku terdiam. Tumben?
“Ibumu
ya, Ran?” Aku mengangguk. “Mau pulang?” Aku menggeleng.
“Kamu pulang aja Ran,
aku nggak apa-apa kok.” Aku terdiam. Baru kusadari hujan telah berhenti. Entah
kenapa, serasa kebahagiaan tadi lenyap seketika bersama air hujan yang jatuh.
“Apa
mau ku antar?”
“Nggak
perlu, Wan. Kita jalan-jalan aja ya.” Aku tersenyum.
Rani....
batin Wanda
*
Yah, inilah
kehidupanku. Aku merasa ketika hujan berhenti keajaiban itupun pergi bersama
rintikan air. Orangtuaku sudah tak seakur dulu lagi, ketika nenekku meninggal, meninggalkan
sebuah rahasia yang sampai sekarang aku tak tahu apa.
Mungkin rahasia itu
yang membuat pertengkaran orangtuaku makin memanas?
*
Acara
jalanku bersama Wanda kali ini tak senyaman dulu. Aku selalu terbayang akan
keadaan orangtuaku dirumah. “Wan, aku mau pulang duluan boleh?”
“Oh,
boleh banget. Aku nggak ngelarang. Mau ku anterin?”
“Nggak
usah, makasih. Lagian ini mendung, takutnya hujan. Ntar kamu sakit lagi,”
“Oh,
yasudah. Hati-hati ya Ran.” Aku tesenyum. “Oh, ya. Kalo ada masalah telfon aku
ya, aku bakal kesana meskipun hujan.”sahabatku begitu baik. Aku tak sanggup
membendung airmata.
“Jangan nangia Rani. Kamu pasti kuat!”
“Jangan nangia Rani. Kamu pasti kuat!”
“Iya
Wanda. You’re the best.”
Kata-kata
Wanda akan selalu aku ingat.
*
Benar saja, hujan turun
ketika baru saja aku menaiki motorku. Aku semakin teringat orangtuaku di rumah,
aku menangis. Aku menangis dalam hujan. Ku pikir, tak akan ada satu orangpun
yang akan menyadarinya.
“Rani.”
Aku menoleh. Seorang cowok yang sepertinya pernah kutemui, memanggilku. Aku mengerutkan kening. “Nggak inget aku?
Yang tadi di perpustakaan?” Aku mencoba mengingat, mungkin benar. Tapi aku tak
yakin karena wajahnya tertutup mantel dan setengah helm.
“Minggir
yuk, Ran. Di rumah makan itu.”katanya sambil menunjuk rumah makan di sebrang
lampu merah itu. Aku mengangguk agak ragu. Ku belokkan motorku menuju rumah
makan tadi.
Ternyata
benar, itu cowok tadi yang kutemui di perpustakaan. Dia ingat namaku, aku saja
tak tahu siapa dia.
“Duduk
dulu, ya? Mau?”da menawarkanku. Aku duduk di depannya.
“Kok
kamu diem terus?”tanyanya, lagi. Aku tersenyum kecil. Masih terdiam.
“Aku
aja nggak kenal kamu. Boleh cerita kamu siapa?” Cowok itu berdiri mendekati
motornya dan mengambil jaket kering dari jok motornya.
“Aku
mau cerita, kamu pake ini dulu.”katanya sambil menyelempangkan jaket nya
kebahuku. “Nah, sekarang kamu dulu yang cerita kenapa tadi kamu nangis di
jalan?”
“Kamu
sadar?”
“Tentu.”
“Ku
kira tak ada seorangpun yang akan sadar.”
“Hei,
aku tak se cuek yang kamu kira. Cerita saja, habis putus sama pacarmu?”
“Putus
sama orangtua tepatnya.”
“Orangtua?
Kok bisa putus?”
“Sudah
cukup ceritaku, sekarang bilang siapa namamu dan dari mana kamu berasal.”
“Aku
berasal dari tanah,”
“Aku
serius..”
“Oke,
namaku Viden.” Aku terdiam kembali. Mungkinkah ini Viden yang Wanda maksud?
“Aku
boleh pulang sekarang?”
“Kok
tiba-tiba gitu? Buru-buru banget ya?”
“Iya,
aku lupa kalo ada urusan lain.”
“Oh,
silahkan. Tapi kapan kamu mau bercerita?”
“Simpan
nomor telfonku di handphonemu.”
“Oke.
Bawa saja jaketku sampaai kamu bayar utang ceritamu padaku.”
*
“Wanda? Ku kira kamu
pulang.”aku kaget mendapati Wanda duduk di depan pekarangan rumahku.
“Aku benci hujan,
Ran.”tiba-tiba pernyataan itu terlontar dari bibir manis Wanda. Hal yang sangat
berkebalikan denganku.
“Kenapa Wanda?”
“Kenapa Wanda?”
“Aku belum bercerita
padamu, barusan aku pulang, benar saja katamu akan turun hujan. Ketika aku mau
berhenti di suatu rumah makan, aku melihat.. Viden.” Aku terdiam. “Dia sama
cewek lain. Entah siapa itu.” Aku merasakan hal yang tak menyenangkan terjadi.
“Kamu tak mengenalnya?
Sebenarnya Viden itu siapa?”
“Dia bukan siapa-siapaku.
Aku hanya mengenalnya dari tempat lesku. Kamu tahu itu kan? Mulai saat itu aku
naksir dia, aku pernah bercerita sekali dengannya, dia bilang, dia nggak punya
pacar. Aku semakin berambisi untuk mendapatkannya.”
“Dia tahu kamu suka
dia?”
“Nggak. Jelas nggak.
Aku nggak pernah cerita apapun tentang perasaanku ke dia.”
“Kalau begitu, kamu
salah. Bagaimana kalau tiba-tiba ada cewek lain yang tertarik pada Viden?”
“Kenapa tiba-tiba kau
menanyakannya? Kamu bahkan nggak tau siapa Viden.”
“Oh, oke. Maafkan aku,
itu urusanmu. Tapi tak sepantasnya karena itu kamu membenci hujan.”
“Memangnya kenapa?”
“Tak apa. Mari masuk.”
Aku sudah kalah debat dengannya. Mungkinkah aku cewek yang Wanda maksud?
*
Aku memasuki rumahku.
Ayahku tak di rumah. Hanya ibuku saja yang sedang memasak di dapur. Tak akan ku
hampiri, aku malas. Ku ajak Wanda ke kamarku.
“Tidur saja Wan, aku
mau ke kamar mandi dulu.”
*
“Sekarang aku tahu
alasanmu kenapa membela Viden.” Aku terkejut dengan pernyataan Wanda.
“Maksudmu?”
“Halah nggak usah sok
bodoh. Ini jaketnya siapa kalau bukan punya Viden?” Aku terdiam. Tak bisa
berkata apa-apa. Wanda menemukan jaketnya Viden dalam tasku.
“Aku pulang ya Ran,
makasih buat semua persahabatan kita.”
“Wanda, kamu salah
paham!”Wanda tak peduli.
*
Aku pergi dari rumah.
Hanya ingin sekedar mencari udara segar. Suasana sore itu masih mendung, antara
hujan tak hujan. Tepat sekali dengan perasaanku yang galau.
Aku berhenti pada suatu
rumah kosong sepi tak berpenghuni. Rumah itu dulu rumah nenekku, tempat aku
melarikan diri dari rumah jika ada masalah. Tapi sekarang sudah berbeda. Rumah itu
sekarang hanya sebuah rumah kosong tak berpenghuni yang sudah beralih fungsi.
Aku duduk di kursi depan rumah itu. Tiba-tiba
saja hujan turun. Seseorang berhenti depan pekarangan rumah itu. Motornya
seperti ku kenal. Orang itu masuk, sepertinya ia tak sadar kalau di depan rumah
ini ada orang.
“Rani?”
“Viden?”
“Ngapain kamu di sini?”
“Ini rumah nenekku,
dulu.”
“Nenekmu? Ini rumah
nenekku Rani. Yah, meskipun aku baru tahu akhir-akhir ini kalau rumahnya di
sini.”
“Jangan menaguku-ngaku.
Aku tak pernah melihatmu sebelumnya.”
“Memang, aku baru tahu
kalau ini rumah nenekku juga. Bahkan, baru di akhir-akhir kehidupannya aku tahu
kalau beliau masih hidup, dunia begitu sempit.”
“Maksudmu?”
“Mungkin sekarang waktu
yang tepat. Aku kakakmu Rani, kakak kandungmu.”
“Apa yang kamu
bicarakan?”
“Aku kakakmu.
Kebohongan besar yang telah lama berlalu.” Aku terdiam. Hal yang tak pernah ku
sangka sama sekali.
“Coba ingat kata
terakhir yang nenek bicarakan kepadamu.” Suatu saat, kamu pasti akan tahu
sebuah kebohongan besar yang dilakukan orangtuamu. Baru bulan lalu nenekku
meninggal, baru tadi aku bertemu dengannya, semuanya terbongkar. Tanpa
sepengatahuanku selama ini, ternyata Viden kakakku. Kakak kandungku.
Aku mencoba menerima
semuanya yang terjadi begitu cepat.
Aku terpaku di depan
rumah itu. Hujan semakin deras. Air mataku menetes.
“Itu alasanku kenapa
akhir-akhir ini kenapa aku sering memperhatikanmu.”
Sungguh aku tak
menyadarinya.
“Kamu mau pulang ke
rumahmu? Ke rumah kita? Aku akan mengantarmu adikku.” Aku pilih mengangguk.
*
Hujan tak kunjung
berhenti hingga aku tiba di rumahku, yang sekarang menjadi rumah Viden juga,
rumah ayah kita. Ibuku menunggu di depan rumah, aku kira ini bagian dari
skenario hidupku hari ini.
“Viden?”
“Hai, tante.” Viden
menyalami ibuku.
“Rani? Dan kamu?”ibu terlihat
kaget.
“Nggak usah kaget
tante. Saya sudah mengatakannya pada Rani.”
Ibuku memelukku. Aku
menangis lagi.
Ternyata, ibuku juga
tidak tahu menahu tentang hal ini. Baru beberapa waktu sebelum nenekku meniggal
ibuku mengetahuinya. Mungkin itu sebab pertengkaran orangtuaku akhir-akhir ini.
Ternyata ayahku pernah menghamili orang sebelum menikah dengan ibuku. Dan
anaknya itu adalah, Viden.
Aku saja sedih,
bagaimana Viden? Baru kusadari betapa jahatnya ayahku. Merahasiakan ini
sepanjang 16 tahun hidupku.
Aku masih dalam dekapan
ibuku. Seperti korban tindas kebohongan. Tak lama, Viden ikut memeluk kami, aku
dan ibuku.
“Maaf ya tante, Rani,
keluargaku memang keluarga penghancur.” Ibuku melepaskan pelukannya.
“Tidak ada yang salah,
Viden. Semua ini adalah cobaan buat kita semua.” Viden tersenyum, terharu. Ia
melirikku, aku balas meliriknya, tersenyum.
Benar kata ibu, semua
ini cobaan. Tak ada yang perlu di salahkan.
“Jangan benci sama ayah
kalian ya, dia sudah memberikan yang terbaik untuk kalian.”
Aku dan Viden
mengangguk, tersenyum.
*
Akhirnya hari ini hujan
benar-benar menutup hariku yang indah. Hari ini, semuanya mambaik. Aku dan
Wanda bersahabat seperti dulu. Aku dan Viden
sudah akur. Orangtuaku juga. Wanda dan Viden? Tebak saja apa yang
terjadi jika mereka akhirnya saling mengenal.
Mungkin kalau hari itu
tidak turun hujan, aku tidak akan merasa sebahagia ini.
SMA Indonesian Contest
menyambut bulan bahasa :)

2 komentar
nyontek drmn ni ki??
BalasHapushahahaha,sip2, tingkatkan!!
aseeeeeemm.. gak nyontek ya :p
BalasHapus